ementerian Perindustrian (Kemenperin) memberikan penghargaan pada 13 pabrik yang telah mengadopsi teknologi 4.0.

Adapun, 8 dari 13 pabrik tersebut merupakan binaan Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT). 

Direktur Jenderal IKFT Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan kedelapan pabrik tersebut telah memiliki  angka Indonesia Industry 4.0 Index (INDI 4.0) lebih dari 3,0.

INDI 4.0 memiliki skala 0-4 dengan skala 4 menandakan sebuah pabrikan telah mengaplikasikan industri 4.0, sedangkan skala 0 menandakan sebuah pabrikan belum siap sama sekali untuk masuk era industri 4.0. 

“[Target INDI 4.0 IKFT tahun ini] sudah tercapai karena kemarin kami menetapkan targetnya rendah. Tapi, kami akan coba untuk meningkatkan lagi tunk target tahun depan supaya kami lebih terpacu lagi,” kata Khayam usai ‘Conference and Award Industri 4.0’, Rabu (25/11/2020). 

Khayam menargetkan setidaknya dapat membina 16 pabrik untuk menembus angka 3,0 pada skala INDI 4.0. Menurutnya, hal tersebut memungkinkan lantaran industi kimia merupakan salah satu sektor manufaktur yang lebih dulu masuk pada era industri 3.0.

Seperti diketahui, revolusi industri 2.0 merupakan era industri yang memfokuskan pada produksi masal. Sebaliknya, revolusi industri 3.0 memiliki fokus pada otomatisasi untuk mengurangi biaya produksi. 

Khayam menjelaskan industri kimia cepat memasuki revolusi industri 3.0 karena banyak tahapan produksi yang sulit untuk dilakukan manusia. Alhasil, otomatisasi menjadi jawaban agar proses produksi lebih aman. 

Walakin, Khayam mengatakan akan mengarahkan pabrikan untuk mengadopsi teknologi revolusi industri 4.0 tanpa mengurangi tenaga kerja. Artinya, penggunaan teknologi yang akan didorong adalah yang dapat memecahkan bottleneck dalam proses produksi. 

“Kami juga tidak menginginkan mereka harus mengeluarkan investasi yang terlalu besar [dan membuat berat arus kas].” ucapnya. 

Di sisi lain, Khayam menyatakan telah ada investasi di pipeline industri kimia senilai Rp500 triliun. Adapun, pandemi Covid-19 membuat realisasi investasi tersebut mundur selama 12 bulan dan baru akan dimulai pada 2021. 

Anda Seorang Pengusaha Industri, Ingin Urus Perizinan usaha anda ?

Butuh Jasa IUI, SNI, Merek, BPOM dan izin lainnya

Hubungi Kami

Pelaku industri kecil menengah (IKM) dituntut untuk bisa mencari peluang usaha di tengah kondisi pandemi Covid-19. Adanya adaptasi kebiasaan baru akibat pendemi, telah menggeser pola belanja dari offline menjadi online. Ini terlihat dengan meningkatnya transaksi online produk kosmetik sebesar 80 persen.

“Social distancing menyebabkan konsumen menjadi lebih banyak waktu di rumah, sehingga lebih banyak waktu merawat kulit, badan, dan rambut akibatnya belanja permintaan untuk perawatan di rumah semakin meningkat menggantikan kebutuhan salon dan spa,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih lewat keterangan tertulisnya, Selasa (24/11/2020).

Guna memenuhi permintaan konsumen yang melonjak tersebut, Kemenperin mendorong agar pelaku IKM kosmetikterus meningkatkan produktivitasnya karena akan membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Untuk itu, kami juga meminta kepada mereka bisa berinovasi dalam menciptakan produk dan menjalankan bisnisnya,” ungkap Gati.

Dirjen IKMA menjelaskan, penyelenggaraan kegiatan Virtual Expo IKM Kosmetik 2020 yang diikuti oleh 35 pelaku usaha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,diyakini dapatmenjadi wadah bagi para IKM kosmetik, spa, dan produk spa untuk memperluas akses pasarnya.

“IKM ini kami ajak untuk ikut dalam virtual expo, selain sebagai sarana pemasaran produk, juga untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk kosmetik dalam negeri. Selain itu, meningkatkan kapasitas bisnis dan meningkatkan awarenessIKM terhadap produk kosmetik lokal yang aman dan terjangkau,” paparnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan I tahun 2020, kinerja industri kimia, farmasi dan obat tradisional (termasuk sektor kosmetik) mengalami pertumbuhan yang gemilang sebesar 5,59 persen.

Bahkan, di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19, kelompok manufaktur ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa melalui capaian nilai ekspornya yang menembus US$317 juta atau sekitar Rp4,44 triliun pada semester I-2020 atau naik 15,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pada gelaran Virtual Expo IKM Kosmetik 2020, akan dilaksanakan beberapa rangkaian acara pendukung sepertitalkshow dengan topik Industri Kosmetik Nasional Menghadapi Adaptasi Kebiasaan Baru. Adapula kegiatankonsultasi IKM one-on-one, makeup class online, virtual muslim fashion show dan temu bisnis IKM kosmetik, spa dan produk spa.

sumber : https://akurat.co/ekonomi/id-1240317-read-dampak-pandemi-transaksi-online-produk-kosmetik-melonjak-80-persen

Untuk izin bpom kosmetik, izin halal, izin industri lainnya bisa konsultasikan kepada kami

Hubungi team ahli kami

Hubungi Untuk Pertanyaan


Hubungi Kami

ementerian Perindustrian mencatat investasi sektor manufaktur kian moncer di tengah tekanan berat akibat pandemi Covid-19, dengan mampu merealisasikan nilai investasi sebesar Rp72,3 triliun sepanjang triwulan III 2020 atau naik 69,3 persen dibandingkan periode sama 2019.

“Dari nilai investasi tersebut, sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar 34,6 persen terhadap total investasi Indonesia pada triwulan III 2020 yang mencapai Rp209 triliun,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian R Janu Suryanto lewat keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Janu merinci selama triwulan III 2020, penanaman modal dalam negeri (PMDN) untuk sektor industri pengolahan senilai Rp19,5 triliun atau naik 34,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Sedangkan, untuk penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp52,8 triliun atau naik 87,3 persen,” sebutnya.

Janu menambahkan dana yang digelontorkan oleh sektor industri pengolahan pada Januari-September 2020 mencapai Rp201,9 triliun atau naik sebesar 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

“Investasi tersebut terdiri atas PMDN sebesar Rp62,3 triliun yang naik 18 persen dan PMA sebesar Rp139,6 triliun yang naik 47,7 persen,” ungkapnya.

Sepanjang sembilan bulan tahun ini, PMDN sektor industri pengolahan didominasi oleh sektor industri makanan dengan nilai Rp21,9 triliun atau berkontribusi sebesar 35,1 persen.

Berikutnya, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia senilai Rp7,9 triliun (berkontribusi 12,7 persen) serta industri barang galian bukan logam sebesar Rp5,3 triliun (berkontribusi 8,5 persen).

Sementara itu, realisasi PMA sektor industri pengolahan pada Januari-September 2020 didominasi oleh sektor industri logam dasar dengan nilai USD4,4 miliar atau berkontribusi sebesar 45,8 persen.

Selanjutnya, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia senilai 1,21 miliar dolar AS atau berkontribusi 12,5 persen serta industri makanan sebesar 1,07 miliar dolar AS atau berkontribusi 11 persen.

“Selama Januari-September 2020, investasi sektor industri pengolahan di Pulau Jawa sebesar Rp82,7 triliun dengan kontribusi sebesar 41,0 persen terhadap total investasi sektor industri pengolahan, sedangkan investasi di luar Pulau Jawa sebesar Rp 119,2 triliun dengan kontribusi sebesar 59 persen,” paparnya.

Berdasarkan lokasi proyek, lima besar investasi sektor industri pengolahan berada di Jawa Timur dengan nilai Rp29,8 triliun atau berkontribusi sebesar 14,8 persen. Kemudian, Jawa Barat Rp26,2 triliun (13, persen), Maluku Utara Rp20,4 triliun (10,1 persen), Kepulauan Riau Rp20,1 triliun (10 persen), dan Sulawesi Tengah Rp16 triliun (7,9 persen).

“Untuk lima negara teratas dengan investasi PMA sektor industri pengolahan terbesar pada Januari-September 2020, yaitu Singapura dengan nilai sebesar Rp39,14 triliun atau berkontribusi sebesar 28,0 persen, diikuti China Rp 26,75 triliun (19,2 persen), Hong Kong Rp21,90 triliun (15,7 persen), Jepang Rp13,85 triliun (9,9 persen), dan Korea Selatan Rp10,09 triliun (7,2 persen),” tutur Janu.

Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono menyampaikan upaya strategis yang sedang dilakukan pemerintah untuk penurunan impor pada sektor-sektor dengan persentase impor terbesar dijalankan secara simultan dengan upaya peningkatan utilisasi produksi.

Dalam hal tersebut, Kemenperin terus mendorong pendalaman struktur dan peningkatan investasi di sektor industri.

“Memang investasi punya andil yang sangat besar bagi perekonomian, seperti penyerapan tenaga kerja. Kami akan fasilitasi dan kawal realisasi investasi dari sektor industri. Hingga tahun 2023, ada rencana investasi di sektor industri dengan total nilai hingga Rp1.048 triliun,” ungkap Sigit.

Berikutnya, kebijakan strategis yang diterapkan pemerintah meliputi implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 pada tujuh sektor industri prioritas, yaitu industri makanan dan minuman, kimia, tekstil dan busana, otomotif, elektronika, farmasi serta alat kesehatan.

sumber : https://www.antaranews.com/berita/1844016/kemenperin-investasi-sektor-manufaktur-makin-moncer-di-tengah-pandemi

Butuh Perizinan Manufaktur ? atau usaha anda butuh pengurusan perizinan ?

Hubungi Kami

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi mengaku optimis pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19, bisa dilakukan apabila semua instansi saling bergandengan tangan. Jika itu terlaksana maka pendapatan pajak akan meningkat.

“Rakyat saat ini memang dalam keadaan sulit, jangankan pajak, makan pun sulit. Tapi tidak boleh pesimis, dengan bergandengan tangan kita dapat meningkatkan pendapatan pajak,” kata Edy dalam sambutannya pada acara Taxpayer Gathering DJP 2020, dengan tema ‘Pemulihan Ekonomi untuk Indonesia Bangkit yang digelar secara daring di pendopo rumah dinas Jalan Jenderal Sudirman Medan, Rabu (11/11).

Edy menjelaskan, pemerintah saat ini fokus menjalankan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan intervensi dengan menggelontorkan dana sebesar Rp300 miliar, supaya meningkatkan daya beli dan konsumsi masyarakat di tengah situasi pandemi.

“Anggaran ini sebagai stimulus ekonomi pada pelaku usaha dan bantuan untuk para pekerja,” ujarnya.

Sementara Dirjen Pajak, Suryo mengatakan, pihaknya baru mengumpulkan Rp150 triliun atau 17 persen dari target capaian perolehan pajak. Diharapakan beberapa bulan setelah pemulihan ekonomi, penerimaan pajak akan dapat terpenuhi.

Di masa pandemi ini, lanjutnya, khusus wajib pajak yang melaksanakan kegiatan usaha telah diberikan pengurangan pajak penghasilan hingga 50 persen dengan tujuan wajib pajak dapat menggerakan usahanya. Pajak penghasilan import yang mulai April dan diperpanjang sampai Desember juga diberikan kebebasan.

Kepala Kanwil DJP Sumut II Romadhaniah menyampaikan, perkembangan kinerja penerimaan DJP Sumut II sudah mencapai 5,9 persen dan SPT 60,91 persen. Harapanya penerimaan ini dapat terus meningkat.

sumber : https://medantoday.com/pemulihan-ekonomi-di-masa-pandemi-gubsu-itu-bisa-dilakukan-jika/

Jika Anda Membutuhkan Jasa Pengurusan Izin Usaha Anda

Konsultasikan kepada kami

Masuknya wabah Covid-19 pada pertengahan Maret lalu ke Indonesia, terlah mengubah segala-galanya, mulai dari tatanan sosial, budaya, perilaku dan juga memporakporandakan perekonomian hampir di seluruh negara.

Dampaknya, banyak perusahaan maupun usaha yang harus gulung tikar, dan melakukan PHK (Putus Hubungan Kerja) secara besar-besaran. Bahkan saat ini, banyak pengamat yang mengatakan negara sedang di ambang resesi.

Namun di balik pandemi yang melanda negeri ini, ada hikmah yang bisa dipetik, bahkan tidak sedikit dari warga Indonesia yang terbuka kreativitasnya dengan menemukan inovasi bisnis. Mulai dari bisnis secara online, maupun menyiasati bisnis dengan tetap bisa bertahan menjalankan usaha meski di tengah pandemi.

Hal ini yang dilakukan oleh Zoevana Andrean Putri (27) warga Perumahan Sempusari Jalan Mojopahit Blok AE 8 Sempusari Jember. Ibu muda dengan dua anak selaku pemilik dan produsen tas branded merek Vicria ini, justru bisa meningkatkan omsetnya di kala pandemi covid-19 dengan jualan secara online.

Zoevana mengatakan, jika usahanya tersebut berawal dari dirinya merintis usaha tas import di Batam sejak 2014, meski pada akhirnya usaha tersebut ditutup. Akan tetapi di awal 2020, ia kembali merintis usaha tasnya dengan brandnya sendiri.

“Saya mengawali usaha ini sejak 2014 di Batam, bahkan usaha saya semakin berkembang, bahkan pernah import tas saat di Batam, namun pada tahun 2017, usaha saya tutup, karena peraturan import yang rumit, dan memutuskan pulang ke Jember, dan saya mencoba kembali merintis usaha ini lagi sejak awal 2020 lalu, dan hasilnya Alhamdulillah bisa berkembang,” ujar Zoevana saat ditemui di rumahnya.

Tidak hanya itu, bahkan saat ini dirinya bisa menampung dan mempekerjakan para buruh yang terkenak PHK oleh persahaannya akibat imbas dari covid – 19. Rata-rata pekerja yang jumlahnya puluhan ini diambil dari karyawan agen umroh dan haji.

“Pasca adanya pengumuman kalo misalkan umroh dan haji ditutup sementara, Sedangkan karyawan yang bekerja di koper umroh dan haji itu sangat banyak mas. Jadi akhirnya mereka semua kenak PHK secara masal. Berangkat dari situ akhirnya saya memutuskan untuk memulai bisnis tas kembali dengan brands saya sendiri dengan mempekerjakan mereka,” jelasnya.

Oleh karena itu, dirinya bersyukur di saat masa sulit ini bisa membantu terhadap para buruh yang kenak PHK imbas dari Covid- 19. Zoevana juga tidak memungkiri jika usahanya tidak selamanya berjalan lancar, agar tetap bertahan, ia melakukan subsidi silang dengan usahanya yang lain.

“Niat awal saya untuk membantu para pekerja – pekerja yang kenak PHK akibat dampak Covid – 19. Alhamdulillah sekarang bisnis tas dengan brands saya sendiri itu mulai berkembang dan sekarang bisa memperkejakan puluhan karyawan yang kenak phk, saya juga melakukan subsidi silang pada usaha saya ini, jika usaha yang lain lesu dan omset menurun, maka akan kami lakukan subsidi dari usaha kami yang lain,” ujar perempuan yang memiliki 18 jenis usaha ini. (*)

sumber : https://jatimtimes.com/baca/228385/20201110/161000/kisah-ibu-muda-yang-sukses-jalankan-bisnis-di-masa-pandemi-yuk-intip-tipsnya

Jika Anda Membutuhkan Jasa Perizinan Usaha Anda

Hubungi Kami